Jalin Kerjasama Dengan DPRD, HIMA HAN Adakan Kegiatan Diskusi Dan Simulasi Sidang Jelang Ulang Tahun Ke-17

Liputan dan Berita
Jalin Kerjasama Dengan DPRD, HIMA HAN Adakan Kegiatan Diskusi Dan Simulasi Sidang Jelang Ulang Tahun Ke-17

Gemajustisia.com-Himpunan Mahasiswa Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Andalas (HIMA HAN FHUA) menyelenggarakan HIMA HAN PRESENT VII di Gedung Serba Guna (GSG) Fakultas Hukum Universitas Andalas, Senin (06/05/2024).

Julfahmi Syahputra, selaku ketua pelaksana HIMA HAN PRESENT VII mengatakan bahwa acara ini dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi diskusi dan simulasi persidangan dengan topik pembahasan mengenai “Perhutanan Sosial.”

HIMA HAN PRESENT kali ini mengangkat tema “Refleksi Pemilu 2024 Pemilihan Kepala Daerah dan Kepemimpinan Bangsa Di Masa Akan Datang,” HIMA HAN mengundang Supardi, S.H, Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat dan Dr. Khairul Fahmi, S.H., MH, Dosen Fakultas Hukum Unand sebagai pembicara.

Acara ini dilatarbelakangi karena semangat untuk mengangkat kegiatan berbentuk praktek sehingga akan memberikan kesan yang berbeda dengan kegiatan-kegiatan yang pernah diadakan sebelumnya. Alasan lainnya adalah sebagai bentuk tanggungjawab HIMA HAN untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa terutama yang berada di fakultas Hukum Unand.

Dari segi tujuan, kegiatan ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan, minat dan bakat mahasiswa, serta memperluas hubungan dan jaringan relasi dari fakultas Hukum terutama dari HIMA HAN.

“Saya bangga hari ini kita mengadakan HIMA HAN PRESENT. Ini satu-satunya kegiatan yang menurut saya perlu diapresiasi. Mengapa begitu, karena HIMA HAN PRESENT ini adalah bagian dari kegiatan pendidikan yang menurut saya penting untuk perkembangan saudara-saudara mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Hukum. Temanya juga sangat menarik mengenai referensi pemilu 2024,” kata Dekan Fakultas Hukum Universitas Andalas, Dr. Ferdi, SH., MH dalam sambutannya. 

Dibalik itu, Ketua Pelaksana membeberkan kendala yang sempat terjadi dalam mempersiapkan acara yang diikuti oleh 200 orang peserta ini. Pertama, kurangnya ketersediaan SDM dikarenakan sebagian panitia adalah mahasiswa semester akhir yang disibukkan dengan tugas akhirnya. Kedua, pengalaman untuk pertama kalinya menjalin kerjasama dengan DPRD. Pada awalnya, kegiatan direncanakan akan diselenggarakan di kantor DPRD namun karena antusias yang besar, lokasi acara diubah di GSG FH Unand. 

Memantik awal diskusi, Fahmi memaparkan mengenai sistem politik demokrasi di Indonesia dan segala konsekuensinya. “Sekali lagi saya sampaikan, tidak ada satu pun sistem di dunia ini yang dapat dikatakan  sempurna. Yang penting adalah konsistensi dan komitmen.”

Kunci dari demokratis yang sehat terletak pada partai politik yang menduduki peran paling dominan menentukan wajah demokrasi. Untuk itu hendaknya ditanamkan sikap toleransi dan sikap menahan diri sebagai pagar demokrasi.

Fahmi juga menyebutkan masalah serius pemilu 2024, terkait Undang-Undang Pemilu yang ketinggalan zaman dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Peraturan Komisi Pemilihan Umum yang bermasalah. Ada pun mekanisme hukum yang tersedia  tidak dapat menjangkau pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam proses penyelenggaraan pemilu.

“Dan 2024 juga perlu dicatat adalah pemilu yang berasas adil dan jujur dalam konstitusi itu, diciderai. Tapi pemilu presiden sudah selesai, perkara di Mahkamah Konstitusi juga selesai, pemilu legislatif juga udah selesai, sekarang masih dalam proses penyelesaian sengketa hasil di MK. Apapun hasilnya, seberapapun cara kita mengkritik ini, tapi kalau dia di satu titik bahwa kita harus berhenti, maka berhenti. Harus diterima. Sepanjang ada mekanisme, silahkan, asal gunakan cara legal. Jika sudah selesai, maka harus selesai. Tutup buku dan buka lembaran baru.”

Dalam sesi diskusi Supardi mengatakan bahwa dirinya adalah korban kebijakan dari KPU, bukan hanya paslon 01 dan paslon 03. Namun, paslon 02 juga merupakan korban KPU.

“Ini kesiapan KPU sebelumnya yang tidak siap untuk bisa menyelanggarakan pemilu kita. Yang kedua adalah tingkat kecerdasan masa kita ini masih bisa dipertanyakan. Apa pun persoalannya, apa pun pilihannya, dan siapa pun yang terpilih sesungguhnya itu adalah ujungnya. Ketika ujungnya berakhir, maka berakhirlah persoalan. Harusnya seperti itu. Tapi, kenyataannya masih terjadi gonjang-ganjing, masih tidak bisa merasakan kekalahan hal yang lumrah,” ujar Supardi.

Dari segi praktis, Supardi mengemukakan realita yang ada di dunia politik demokrasi. “Di tahun 2024, ini pemilu yang pakai sistem demokrasi paling brengsek yang pernah diadakan di Indonesia.”

Menurut Supardi, demokrasi yang bisa dilakukan sangat erat kaitannya sampai sejauh mana bangsa bisa menuntaskan masalah pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi  tingkat demokrasi yang ada di Indonesia. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang berkualitas seperti pemilu tahun 1966-1970 lalu, yang mana menghasilkan orang-orang hebat juga berjiwa negarawan. Berbeda dengan hari ini, pada zaman teknologi yang sangat canggih demokrasi hancur-sehancurnya. 

Supardi melanjutkan terkait transaksi yang dilakukan pemilu 2024 ini sangat vulgar. Semuanya tergantung kecerdasan masyarakat melihat situasi pada hari ini. Ketika produk pemilu tidak lagi sesuai kenyataannya, maka tunggulah kehancuran bangsa Indonesia ke depan.

Kemudian yang menjadi persoalan pada demokrasi saat ini, ialah tidak ada satu yang mencoba mengkritisi hal tersebut. Baik para pakar, para intelek, dan pihak kampus memilih tutup mulut.

Supardi mengatakan “Alasan saya hadir di sini adalah untuk menggembosi orang-orang pintar di kampus ini, sudah saatnya keluar, bersuara tentang masalah demokrasi pada hari ini. Karena mumpung di bulan November besok akan diadakan pilkada. Kalau kurang lagi, bagusnya pada saat ini kita mengucapkan innalilahi wa innailaihi raji’un.” 

Diskusi diakhiri closing statement oleh Nur Aini, selaku moderator. “Mengutip Abraham Lincoln,di mana dia menyampaikan bahwa democracy is government of the people, by the people, and for the people. Artinya adalah keriwetan dari refleksi pemilu tahun 2024 bukanlah kesalahan salah satu pihak, tapi merupakan kesalahan bersama. Oleh karena itu, ketika mendambakan  dan mencita-citakan demokrasi yang lebih unggul ke depannya maka itu dimulai dari diri sendiri.”

 

 

Reporter: Yolla Miranda dan Keisha Faatin

Editor: Raudhatul Jannah

 

0 Comments

Leave a Reply