Gemajustisia.com-Himpunan
Mahasiswa Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Andalas (HIMA
HAN FHUA) menyelenggarakan HIMA HAN PRESENT VII di Gedung Serba Guna (GSG) Fakultas
Hukum Universitas Andalas, Senin (06/05/2024). Julfahmi Syahputra,
selaku ketua pelaksana HIMA HAN PRESENT VII mengatakan bahwa acara ini dibagi menjadi
dua sesi, yaitu sesi diskusi dan simulasi persidangan dengan topik pembahasan
mengenai “Perhutanan Sosial.” HIMA HAN PRESENT kali
ini mengangkat tema “Refleksi Pemilu 2024 Pemilihan Kepala Daerah dan Kepemimpinan
Bangsa Di Masa Akan Datang,” HIMA HAN mengundang Supardi, S.H, Ketua DPRD
Provinsi Sumatera Barat dan Dr. Khairul Fahmi, S.H., MH, Dosen Fakultas Hukum
Unand sebagai pembicara. Acara ini
dilatarbelakangi karena semangat untuk mengangkat kegiatan berbentuk praktek
sehingga akan memberikan kesan yang berbeda dengan kegiatan-kegiatan yang
pernah diadakan sebelumnya. Alasan lainnya adalah sebagai bentuk tanggungjawab
HIMA HAN untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa terutama yang berada di fakultas
Hukum Unand. Dari segi tujuan,
kegiatan ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan, minat dan bakat
mahasiswa, serta memperluas hubungan dan jaringan relasi dari fakultas Hukum
terutama dari HIMA HAN. “Saya bangga hari ini
kita mengadakan HIMA HAN PRESENT. Ini satu-satunya kegiatan yang menurut saya
perlu diapresiasi. Mengapa begitu, karena HIMA HAN PRESENT ini adalah bagian
dari kegiatan pendidikan yang menurut saya penting untuk perkembangan saudara-saudara
mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Hukum. Temanya juga sangat menarik
mengenai referensi pemilu 2024,” kata Dekan Fakultas Hukum Universitas Andalas,
Dr. Ferdi, SH., MH dalam sambutannya. Dibalik itu, Ketua
Pelaksana membeberkan kendala yang sempat terjadi dalam mempersiapkan acara
yang diikuti oleh 200 orang peserta ini. Pertama, kurangnya ketersediaan SDM
dikarenakan sebagian panitia adalah mahasiswa semester akhir yang disibukkan
dengan tugas akhirnya. Kedua, pengalaman untuk pertama kalinya menjalin
kerjasama dengan DPRD. Pada awalnya, kegiatan direncanakan akan diselenggarakan
di kantor DPRD namun karena antusias yang besar, lokasi acara diubah di GSG FH
Unand. Memantik awal
diskusi, Fahmi memaparkan mengenai sistem politik demokrasi di Indonesia dan
segala konsekuensinya. “Sekali lagi saya sampaikan, tidak ada satu pun sistem
di dunia ini yang dapat dikatakan
sempurna. Yang penting adalah konsistensi dan komitmen.” Kunci dari demokratis
yang sehat terletak pada partai politik yang menduduki peran paling dominan
menentukan wajah demokrasi. Untuk itu hendaknya ditanamkan sikap toleransi dan
sikap menahan diri sebagai pagar demokrasi. Fahmi juga
menyebutkan masalah serius pemilu 2024, terkait Undang-Undang Pemilu yang
ketinggalan zaman dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Peraturan Komisi Pemilihan
Umum yang bermasalah. Ada pun mekanisme hukum yang tersedia tidak dapat menjangkau
pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam proses penyelenggaraan pemilu. “Dan 2024 juga perlu
dicatat adalah pemilu yang berasas adil dan jujur dalam konstitusi itu,
diciderai. Tapi pemilu presiden sudah selesai, perkara di Mahkamah Konstitusi
juga selesai, pemilu legislatif juga udah selesai, sekarang masih dalam proses
penyelesaian sengketa hasil di MK. Apapun hasilnya, seberapapun cara kita
mengkritik ini, tapi kalau dia di satu titik bahwa kita harus berhenti, maka
berhenti. Harus diterima. Sepanjang ada mekanisme, silahkan, asal gunakan cara
legal. Jika sudah selesai, maka harus selesai. Tutup buku dan buka lembaran
baru.” Dalam sesi diskusi Supardi
mengatakan bahwa dirinya adalah korban kebijakan dari KPU, bukan hanya paslon
01 dan paslon 03. Namun, paslon 02 juga merupakan korban KPU. “Ini kesiapan KPU
sebelumnya yang tidak siap untuk bisa menyelanggarakan pemilu kita. Yang kedua
adalah tingkat kecerdasan masa kita ini masih bisa dipertanyakan. Apa pun
persoalannya, apa pun pilihannya, dan siapa pun yang terpilih sesungguhnya itu
adalah ujungnya. Ketika ujungnya berakhir, maka berakhirlah persoalan. Harusnya
seperti itu. Tapi, kenyataannya masih terjadi gonjang-ganjing, masih tidak bisa
merasakan kekalahan hal yang lumrah,” ujar Supardi. Dari segi praktis,
Supardi mengemukakan realita yang ada di dunia politik demokrasi. “Di tahun
2024, ini pemilu yang pakai sistem demokrasi paling brengsek yang pernah
diadakan di Indonesia.” Menurut Supardi,
demokrasi yang bisa dilakukan sangat erat kaitannya sampai sejauh mana bangsa
bisa menuntaskan masalah pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka
semakin tinggi tingkat demokrasi yang
ada di Indonesia. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang berkualitas
seperti pemilu tahun 1966-1970 lalu, yang mana menghasilkan orang-orang hebat
juga berjiwa negarawan. Berbeda dengan hari ini, pada zaman teknologi yang sangat
canggih demokrasi hancur-sehancurnya. Supardi melanjutkan
terkait transaksi yang dilakukan pemilu 2024 ini sangat vulgar. Semuanya tergantung
kecerdasan masyarakat melihat situasi pada hari ini. Ketika produk pemilu tidak
lagi sesuai kenyataannya, maka tunggulah kehancuran bangsa Indonesia ke depan. Kemudian yang menjadi
persoalan pada demokrasi saat ini, ialah tidak ada satu yang mencoba mengkritisi
hal tersebut. Baik para pakar, para intelek, dan pihak kampus memilih tutup
mulut. Supardi mengatakan “Alasan
saya hadir di sini adalah untuk menggembosi orang-orang pintar di kampus ini,
sudah saatnya keluar, bersuara tentang masalah demokrasi pada hari ini. Karena mumpung
di bulan November besok akan diadakan pilkada. Kalau kurang lagi, bagusnya pada
saat ini kita mengucapkan innalilahi wa
innailaihi raji’un.” Diskusi diakhiri
closing statement oleh Nur Aini, selaku moderator. “Mengutip Abraham Lincoln,di
mana dia menyampaikan bahwa democracy is
government of the people, by the people, and for the people. Artinya adalah keriwetan dari refleksi pemilu tahun
2024 bukanlah kesalahan salah satu pihak, tapi merupakan kesalahan bersama.
Oleh karena itu, ketika mendambakan dan
mencita-citakan demokrasi yang lebih unggul ke depannya maka itu dimulai dari diri
sendiri.” Reporter: Yolla Miranda dan Keisha Faatin Editor:
Raudhatul Jannah

_(1)_(1).png)





.png)

.jpg)

.jpg)









0 Comments