Gemajustisia.com - Universitas Andalas (Unand), sebuah
kampus dengan arsitektur yang menarik berdiri kokoh di tanah Minang.
Lingkungannya yang asri dan hijau, luas dan tertata, menjadi tempat kunjungan
rutin oleh Mahasiswa yang menuntut ilmu di sana. Sudah 67 tahun berdiri, kiprah kampus ini
tidak perlu diragukan lagi di kancah nasional. Selayaknya perguruan tinggi yang
lain, kampus yang disebut-sebut markas power
ranger ini dipimpin oleh seorang Rektor yang tahun ini akan mengalami
pergantian. Di lantai dua
gedung Fakultas Hukum (FH) Unand, ruangan sedikit ke arah pojok dengan papan
penanda bertuliskan Pusat Studi Konstitusi (PUSAKO) FHUA. Di dalamnya duduk
seorang dosen berjiwa muda yang mendaftarkan diri menjadi bakal calon Rektor
Unand periode 2023-2028. Mengenakan kemeja putih bersih, yang pagi hari 21
September 2023 diarak bersama menuju Sekretariat Panitia Pemilihan Rektor
Universitas Andalas. Charles
Simabura, yang karena namanya tersebut sering membuat orang salah paham. Tidak
sedikit orang yang mengira bahwa dosen departemen Hukum Tata Negara (HTN) ini
adalah orang Medan. Dalam perbincangan ringannya di siang hari pada Kamis,
(21/09/2023), Charles menjelaskan bahwa namanya diberikan oleh sang ayah
(Noerman) karena terinspirasi dari nama aktor barat, Charles Bronson. Sedangkan Simabura, diambil dari nama suku ibunya
(Hidayati) yaitu Simabur. Meskipun ia
adalah seorang anak yang dilahirkan di keluarga Minangkabau, Charles mengaku
masa kecilnya lama dihabiskan di rantau. Saat itu, tahun 1985 Charles
sekeluarga merantau ke Palembang. Masa-masa SD, SMP, dan SMA-nya dihabiskan di
bumi Sriwijaya tersebut. Pria kelahiran 1979 ini membagikan kisahnya semasa SD
dari kelas 4 hingga kelas 6, ia menjual Rokok keliling di Pasar Palembang. Saat
beranjak ke bangku SMP, ia beralih membantu Mak
Uwo sepulang sekolah ke pasar untuk jualan. Saat SMA-pun Charles membantu
iparnya berjualan kain pada pagi hingga siang hari sebelum berangkat sekolah. Memang
berbeda dengan rutinitas anak dan remaja pada umumnya, hal itu dilakukan oleh
Charles karena keterbatasan ekonomi. Dengan
bersemangat, memutar memori yang telah lama digiling oleh waktu, sosok yang
dekat dengan mahasiswa ini bercerita tentang semasa menempuh pendidikan di SDN
34 Palembang ia selalu juara kelas. Karena kepintarannya itu, satu-satunya
siswa dari SD tersebut yang berhasil masuk ke SMPN 1 Palembang adalah dirinya.
Dengan tawa berderai Charles mengatakan saat di bangku SMP prestasinya mulai
menurun jika dibandingkan dengan SD. Ia mengatakan bahwa SMP tersebut diisi
oleh orang-orang pintar dan sebagian orang yang berduit. “Teman-teman
abang tu anak pejabat, pokoknya orang berpunyalah, yang kemudian secara sarana
pendidikan mereka lengkap, sehingga ada satu pelajaran yang sangat abang tidak
suka masa itu, bahasa Inggris, benci sekali abang, sehingga abang trauma
bertemu guru abang.” Ucapnya berbagi cerita. Pria yang saat
ini berumur 44 tahun tersebut mengaku stress belajar Bahasa Inggris pada masa
itu. Hal tersebut dikarenakan teman sejawatnya pada masa itu rata-rata anak les
yang sudah mempunyai basic Bahasa
Inggris. Sehingga ketika guru menjelaskan, teman-temannya sudah paham sedangkan
ia mengalami kebingungan. Kesenjangan inilah yang membuat Charles sering
menghindari mata pelajaran tersebut. Perjalanan
pendidikan Charles tidak semulus orang-orang kebanyakan. Direktur PUSAKO FHUA ini juga mengatakan bahwa ia sempat nganggur setahun.
Hal ini berawal ketika ia disuruh oleh orang tua untuk masuk STM, namun nilai
IPA dan Matematika yang tidak mencukupi syarat membuat ia terhadang untuk lolos
masuk STM. Karena keinginan orang tua yang kuat untuk melihat anaknya sekolah,
orang tua Charles sempat ingin menyogok pihak sekolah dan sudah membayar
Rp.300rb. “Untung semasa
itu mereka menipu, uang tersebut dilarikan,” ucapnya dengan rasa syukur. Ia
menyampaikan jika dia masuk STM, maka tidak mungkin jadi Dosen sekarang. Karena
kejadian tersebutlah Charles menganggur dan ketika akan masuk sekolah tahun
depan sudah tidak bisa masuk negeri lagi dan harus melanjutkan di SMA swasta. Semasa di SMA
Bina Warga 1 Palembang, Calon Rektor tersebut selalu meraih juara saat kelas 1
dan selalu duduk paling depan. Ia mengaku mata pelajaran favoritnya pada masa
itu adalah Biologi. Saat kelas 2, Charles bercerita dengan tawa bahwa ia mulai
duduk ke tengah karena gurunya sudah tidak asik dan kelas 3 semakin ke
belakang. Menariknya, saat ia SMA ia satu angkatan dengan sang adik yang
bernama Franky Simabura karena sang adik juga gagal masuk SMA Negeri. Terakhir
tamat, Charles tanpa ragu membeberkan fakta bahwa dia peringkat 38 dari 43
orang. “Ujianpun saat
itu hanya doa yang abang perbanyak, orang ujian belajar kami ujian nyari-nyari
bocoran soal, meski ndak ketemu” ungkapnya dengan tawa. Setelah tamat,
anak laki-laki yang baru lulus itu pergi ke Jakarta dengan keinginan untuk
kuliah. Ia bercerita bahwa saat itu mencoba mengambil kedokteran Universitas
Indonesia (UI). Dengan tawa untuk kesekian kalinya Charles menyampaikan bahwa
saat itu ia sangat mustahil untuk lulus. Ia juga menyebut dirinya sendiri tidak
tahu diri karena mengambil kedokteran gigi UI dan kedokteran Universitas
Sriwijaya (Unsri). “Modalnya cuma
iman dan taqwa, puasa setiap Senin Kamis, tahajjud tiap malam, mana bisa
dikecoh seperti itu Tuhan, ga lulus.” Jelasnya. Akhirnya ia
menganggur di Jakarta dan bekerja menjadi Satpam di Wisma Bakrie, kantor Abu
Rizal Bakrie. Selama bekerja Charles mengumpulkan uang dan lahir kembali
semangat untuk kuliah. Dengan gaji Rp.300rb terkumpul Rp.1.800.000 selama enam
bulan, dipakai Rp.300rb untuk baju lebaran dan sisa Rp.1.500.000, Charles
merincikan. Pria yang pernah
menjabat sebagai Wakil Dekan III FHUA tersebut bercerita tidak pernah berniat
untuk kuliah di Padang. Ia tidak merasa akrab dengan Padang sebab keluarga
jarang pulang kampung karena keterbatasan biaya. Namun, ketika orang tuanya
pulang ke Solok, bertemu dengan sepupunya yang berkuliah di Fakultas Hukum
Unand dan bertukar cerita. Dari sanalah semuanya bermula, orang tua Charles
mengatakan jika besar hati ingin kuliah, kuliah di Padang. Hal tersebut
membuat Charles datang ke Padang dan bimbel. Berdasarkan analisa terhadap nilai
Try Out (TO) Charles mengambil Hukum Unand. Uang bimbel dan biaya hidup selama
di Padang menggunakan uang tabungan Rp.1,5jt tadi sebanyak Rp.500rb dan kembali
lagi ke Palembang setelah daftar Unand. Sisa uang Rp.1jt di tangan digunakan
oleh Charles untuk mendaftar kuliah setelah lulus di Unand. “Saat itu abang
bilang ke orang tua, saya mau kuliah tapi tidak mau sambil cari uang lagi,
tidak seperti dulu lagi, kalau dulu dari SD, SMP, SMA belajar sambil cari uang,
saya tidak mau, saya mau betul-betul kuliah,” ungkapnya menceritakan kejadian
waktu itu. Oleh karena hal
tersebut, sang kakak yang masa itu bekerja sebagai apoteker ikut andil dalam
membiayai Charles kuliah, setengah dibiayai oleh kakak dan setengahnya lagi
oleh orang tua. Menunaikan keinginannya, Charles memanfaatkan masa kuliahnya
untuk aktif diberbagai kegiatan kampus seperti kegiatan akademik, seminar,
termasuk demo. Dengan tawa ramah ala Charles Simabura, ia mengatakan bahwa dulu
cita-cita dia ingin kuliah adalah ingin demo juga. Hal ini dilatarbelakangi pada
saat bekerja di Jakarta saat demo tahun 99, Charles selalu ikut. Hal itu
pulalah yang menjadi alasan Charles memilih bergabung dengan Lembaga Advokasi
Mahasiswa dan Pengkajian Kemasyarakatan ( LAM PK), salah satu organisasi
mahasiswa yang ada di Fakultas Hukum. Kiprah Charles
sebagai aktivis tidak hanya dengan satu organisasi itu saja, ia juga bergabung
dengan UKM Pengenalan Hukum dan Politik (PHP), aktif dalam Perhimpunan
Mahasiswa Tata Negara (PMTN) FHUA, dan tergabung juga dalam Forum Mahasiswa
Anti Korupsi Sumatra Barat. Kuliah yang dimaksud olehnya bukanlah kuliah yang
menjadi mahasiswa Cumlaude melainkan
menjadi aktivis. Saat itu ia juga sempat ditunjuk menjadi ketua LAM PK pada
periode 2002-2003. Lahir
pertanyaan, kenapa seorang anak IPA seperti Charles malah melanjutkan kuliah
mengambil jurusan Ilmu Hukum? Charles menyampaikan hal itu terjadi karena
hasil-hasil TO yang memperlihatkan nilai Soshumnya lebih tinggi daripada
Saintek. Ia juga mengaku bahwa saat membantu orang tuanya dulu semasa remaja,
Charles suka membaca Koran yang digunakan oleh orang tuanya sebagai pembungkus
saat berjualan. Ketertarikannya terhadap dunia politik itu jugalah yang
membawanya memilih berkonsentrasi di bidang Hukum Tata Negara, meskipun saat
itu peminat Program Kekhususan (PK) tersebut sedikit. Charles aktif
mengikuti demo-demo semasa kuliah. Banyak kejadian yang berkesan baginya namun
ia membagikan kisah demo kasus korupsi berjamaah tahun 2002 yang membuat ia dan
pendemo lainnya camping di DPRD. “Bukak tenda
kami di sana, makan tidur kami juga di sana, heroik itu demonya, pasang spanduk
di DPRD tulisan Sarang Koruptor dari kain, wihh” ceritanya dengan bersemangat
mengilustrasikan kejadian saat itu Sebagai
mahasiswa yang aktif dan kritis, Charles juga pernah mendatangi Dekan yang
menjabat bersama teman-teman lainnya. Kedatangan mereka menghadap pimpinan saat
itu adalah untuk mempertanyakan uang wisuda yang mereka bayar digunakan untuk
apa. Charles mengatakan bahwa mahasiswa harus kritis mengenai hal tersebut, dan
untuk mengetahuinyapun adalah hak mahasiswa. “Kalau jadi
aktivis harus siap protes sendiri,” ujarnya. Dengan banyak
kisah-kisah yang menarik dari Charles sang aktivis kampus pada masa itu, warga
asli Nagari Sulit Air tersebut menamatkan pendidikan S1 nya di Fakultas Hukum
Unand pada tahun 2004 dan magang di Indonesia Corruption Watch (ICW). Kemudian
pada bulan Desember seleksi dosen dibuka, Charles mengikutinya dan mendapatkan
pengumuman lulusnya pada bulan Januari. Charles juga mendapatkan gelar Magister
dari kampus tempat ia menjadi Dosen, yaitu Unand pada tahun 2009. Semasa kepemimpinan
Fakultas Hukum berada di tangan Prof. Dr. Zainul Daulay, S.H., M.H. Charles
pernah menjadi ketua bagian Hukum Tata Negara, namun dalam masa jabatannya
tersebut Wadek I dan Wadek III berhenti di tengah jalan. Kedua wadek tersebut
diberhentikan karena tidak memenuhi syarat sebagai wakil dekan. Karena adanya
kekosongan jabatan, dicarilah pengganti untuk mengisinya dan saat itu terpilihlah
Charles sebagai WD III. Ia menyampaikan alasan terpilihnya dilatarbelakangi
oleh penilaian orang-orang terhadap dirinya yang dekat dengan mahasiswa. Di masa itu
syarat menjadi wakil dekan haruslah pernah menjabat dua tahun sebagai kepala
departemen. Karena Charles saat itu belum dua tahun menjabat sebagai kepala
bagian, ia ditunjuk menjadi PJ Wadek III dan sempat rangkap jabatan selama
beberapa saat. Setelah menjabat dua tahun barulah ia didefenitifkan menjadi WD
oleh pihak fakultas. Selama menjadi WD
III, Charles menjalankan tugasnya dengan akrab bersama mahasiswa. Ia rajin
mengadakan rapat dan diskusi bersama mahasiswa-mahasiswa yang ada di PKM.
Charles mengingat dengan jelas berapa angka prestasi yang diraih oleh
perwakilan mahasiswa saat ia menjabat . Ada 83 aktivitas mahasiswa mengikuti
perlombaan dan meraih juara pada masa itu ungkapnya dengan bangga. Strategi Charles
saat menjadi wakil dekan bidang kemahasiswaan saat itu adalah rapat bersama
mahasiswa organisasi yang ada di PKM dan menanyakan apa kegiatan yang akan
diadakan oleh masing-masing organisasi tersebut. Ia juga mengidentifikasi
kegiatan untuk mengganggarkan dana yang akan diberikan oleh fakultas agar
penyebaran uang ke masing-masing kegiatan dan organisasi adil. Seperti halnya
lomba tingkat nasional, ia akan menganggarkan maksimal Rp.15jt, lebih dari itu
fakultas tidak akan membantu. “PKM PKM
misalnya mengadakan kegiatan, seminar, dibantu Rp.10jt, mengikuti kegiatan
dibantu Rp.5jt, saya bagi begitu” ucapnya menguraikan sistem saat itu. Saat jabatan ada
di tangannya, ia juga pernah memberikan kursi-kursi, meja, dan lemari yang
tergeletak tidak difungsikan agar bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa di PKM. Hal
ini dilakukan Charles agar fasilitas-fasilitas yang tidak terpakai tersebut
dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa di ruang organisasi mereka masing-masing. Di
zaman itu juga Charles membebaskan mahasiswa untuk mendirikan organsisasi baru.
Semua sistem dan mekanisme yang itu dilakukan oleh Charles karena menurutnya
pribadi mahasiswa harus diberikan saluran. Charles
bercerita tentang penyebaran informasi yang lambat pada masa itu, dan ia sangat
menyayangkannya. Jika ada pengumuman lomba ataupun beasiswa surat turun dari Dekan,
kemudian ke Wadek, lalu ke TU, dan beberapa proses lainnya baru ditempel di
mading. Di masa ia menjabat sebagai WD III ia merubah hal tersebut. Ia memotong
birokrasi, membuat grup whatsapp dan share informasi yang ada di grup
tersebut. Sehingga tidak ada lagi
istilah keterlambatan sebaran informasi terkait apapun di Fakultas Hukum. “Saya berani
mengklaim, masa WD III yang paling asik adalah masa saya,” ucap Charles dengan
percaya diri. Setelah masa
jabatannya sebagai WD III berakhir pada tahun 2018, Charles mendapatkan
beasiswa dan melanjutkan studi doctoral hukum di Fakultas Hukum Universitas
Indonesia (UI). Disertasi yang menghantarkan ia meraih gelar doctor berjudul
“Wewenang Menteri Membentuk Peraturan Menteri dalam Sistem Pemerintahan
Presidensial Pasca Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 Kurun Waktu 2003-2019.” Setelah menyelesaikan
pendidikannya di UI, Charles kembali ke FH Unand dan aktif mengajar sebagai
Dosen Departemen Hukum Tata Negara. Selain itu Charles juga menjabat sebagai Deputi Direktur Bidang Organisasi PUSAKO FHUA.
Charles juga
resmi menjadi calon Rektor ke sepuluh yang mendaftarkan dirinya pada kontestasi
pemilihan Rektor Unand Periode 2023-2028 di hari terakhir. Lima poin program
kerja yang menjurus dirumuskan Charles untuk maju menjadi Calon Rektor adalah
sebagai berikut: 1.
World
Class University yang berdaya saing global: Memastikan terwujudnya target capaian Unand menjadi Top 500
QS World University Ranking yang disertai dengan peningkatan kualitas SDM (Dosen,
Tendik, Mahasiswa) yang berdaya saing global. 2.
UNAND
Center of Excellence (UNAND CoE): Sebagai
Perguruan Tinggi yang bereputasi Internasional, Unand harus mempertegas
kontribusinya dalam menghadirkan solusi bagi persoalan bangsa melalui
inovasi pemikiran maupun teknologi, serta memperkuat pengabdian yang
komprehensif dan berkesinambungan untuk penyelesain persoalan wilayah dengan pelibatan
segenap civitas academika dan alumni 3.
Good
University Governance:
Menghadirkan pelayanan akademik dan non akademik secara prima, cepat,
transparan, dan bertanggung jawab, dengan memaksimalkan fungsi teknologi informasi
untuk setiap civitas akademika Universitas Andalas; 4. Keberlanjutan Infrastruktur yang
Modern, Tepat Guna dan Ramah Lingkungan: Melaksanakan pembangunan infrastruktur institusi
Unand, baik yang sifatnya berdampak langsung pada pelaksanaan fungsi
akademik, maupun yang bersifat pendukung yang berkesinambungan dengan
prinsip modern, tepat guna dan ramah lingkungan guna memberikan manfaat
untuk setiap sivitas akademika Universitas Andalas; 5. Penguatan Kerjasama Produktif,
Strategis dan Multistakeholder:
Memastikan hadirnya kerjasama dan kolaborasi produktif, dengan seluruh
pihak yang akan memberikan kontribusi untuk pengembangan daya saing dan
mutu akademik, aset dan investasi, dengan capaian-capaian yang terukur
dan berkesinambungan melalui pelibatan multistakeholder. Dalam perbincangannya dengan wartawan LPM Gema Justisia, Calon Rektor
dari FH tersebut banyak menjabarkan mengenai rencana dan pandangannya terkait
transparansi dana, pengadaan dan pemeliharaan infrastruktur, birokrasi di Unand
yang akan diubah, memperbarui beberapa sistem yang dinilai kurang efektif, dan
banyak hal lainnya.. Saat melakukan pendaftran bakal calon Rektor, Charles diarak
beramai-ramai dan meriah dengan spanduk bertuliskan “Muda, Bersih, Cerdas, dan
Berani.” Hal ini sesuai dengan data yang menunjukkan bahwa dosen dari FH ini
adalah kandidat termuda yang ikut dalam pencalonan rektor periode ini. Rekam jejak Charles sebagai seorang aktivis anti korupsi juga sesuai
dengan satu slogan yang ada di spanduknya, yaitu Bersih. Sebagai seorang akademisi
dan aktif meneliti tentang hukum dan undang-undang, Charles juga memiliki track record sebagai orang yang vokal
dalam mengkritik kebijakan kampus maupun pejabat Negara. Dengan semangat muda
dan pembaharuan ia mengharapkan bisa menjadikan Unand menjadi lebih baik ke
depannya. Dalam obrolan yang ringan dan santai tersebut, Charles juga memberikan
tanggapan terkait kedekatannya dengan mahasiswa yang sering dipanggil “Bang
Charles”, wartawan dari gema Justisia menanyakan apakah hal tersebut bisa menjadi
“Bang Rektor” ketika menjabat nanti. “Ya boleh-boleh saja, orang menteri aja sekarang dipanggil mas menteri
kok, selagi tidak memberikan panggilan yang kasar, tidak ada masalah.” Jawabnya
dengan tawa.
Reporter :
Nadian




_(1)_(1).png)

_20231124_194632_0017_(1).png)














0 Comments