Gemajustisia.com - Belakangan kita sering
mendengar bahwa banyak orang yang mulai “mengolok-olok” kesuksesan seseorang
dengan dalih kalau seseorang tersebut mempunyai Privilege. Disebut beruntung karena kayalah ataupun disebut karena
menggunakan jasa “orang dalam”. Banyak
orang yang kecewa dengan realitas seperti ini dan banyak juga yang hanya
memaklumi dan menjadikan hal itu sebagai pelajaran saja untuk dirinya, baik
secara positif maupun negatif. Sebagian
orang mungkin akan menjadikan hal itu sebagai motivasi agar dia bisa bekerja
lebih keras,
karena sadar bahwa dirinya tidak punya Privilege
apa-apa.
Sebagian
lagi hanya bisa menyalahkan dan menyayangkan kenapa dunia tidak adil baginya? Kenapa persaingan begitu
ketat dan terkesan hanya memihak orang-orang tertentu? Kenapa dia tidak berasal
dari keluarga yang kaya? Kenapa
dia tidak berasal dari keluarga yang punya banyak koneksi? dan
berbagai keluhan lainnya. Namun
sebenarnya apakah Privilege itu? Mengutip
dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Privilege
yang kemudian diserap ke Bahasa Indonesia menjadi “privilese” yang mempunyai
arti hak istimewa. Persepsi hak istimewa disini sering mengacu kepada banyak
hal. Salah
satunya diartikan sebagai hak istimewa yang didapat seseorang karena terlahir
dari kalangan keluarga yang elit, keluarga yang terpandang atau keluarga kaya. Seseorang
yang berasal dari keluarga yang mempunyai Privilege
ini, sudah pasti sejak kecil pun masa depannya sudah dipersiapkan. Mulai
dari pendidikannya, bagaimana dia harus bersikap, bagaimana dia harus
berpenampilan dan lain-lain. Hal
ini dilakukan agar si anak terbiasa dengan kehidupan keluarganya dan
dipersiapkan agar si anak siap untuk mewariskan “kehidupan” keluarganya
tersebut. Apalagi
kalau semisal si anak ternyata mempunyai minat dan bakat yang sama dengan apa
yang orang tuanya ajarkan dan arahkan, tentu masa depan si anak akan sangat
cerah dan juga akan menguntungkan bagi keluarganya. Namun
bagaimana jika kasusnya si anak ternyata tidak mempunyai minat dan bakat
seperti yang diarahkan oleh orangtuanya? Misalnya
saja jika seseorang itu berasal dari keluarga pebisnis ulung yang mereka pun
sudah mengajarkan dan mengarahkan tentang bisnis ke seseorang tersebut, namun
ternyata dia lebih tertarik ke dunia musik dan memilih untuk menjadi musisi saja – dibanding menjadi pebisnis
yang kemudian akan melanjutkan bisnis yang sudah dikelola keluarganya tersebut. Kasus
seperti inilah yang seharusnya menjadi
bukti, bahwa berasal dari keluarga kaya pun tidak bisa sepenuhnya menjadikan
seseorang itu sukses. Dan juga sebagai pembuktian bahwa Privilege bukan hanya karena berasal dari keluarga yang kaya saja. Sebenarnya
ada begitu banyak hal yang bisa kita sebut sebagai Privilege. Seperti
keluarga yang berpendidikan, keluarga yang mendukung apapun yang anak mereka
lakukan asal positif, badan yang sehat dan bugar, lingkungan yang tidak toxic dll. Dan
yang pasti setiap manusia mempunyai Privilege
nya masing-masing yang sudah
digariskan oleh Tuhan yang maha esa. Hanya
saja manusia tidak sadar dan malah lebih memilih untuk fokus ke Privilege orang lain. kemudian malah
“mengolok-olok” kesuksesan orang lain tanpa berkaca ke diri mereka sendiri. Hal
yang patut disadari adalah sukses bukan berarti seberapa banyak uang yang sudah
kalian punya, tapi sukses adalah saat kita melakukan hal yang kita suka, yang
kita enjoy dengan itu tanpa merasa
terbebani atau malah membuat kesehatan fisik dan mental kita menjadi down. Sebagai
manusia kita harusnya pintar untuk “memanfaatkan” yang kita punya dan kita
kuasai. Agar kita tahu bagaimana karier kita kedepannya. Di bidang seni kah? Olahraga kah? Bisnis kah? dll. Dan
juga agar kita tahu apa saja usaha yang harus kita lakukan, apa saja langkah
yang harus kita tapaki dan segala hal yang harus kita kuasai. Untuk itu kita harusnya lebih
mengenal diri sendiri dan fokus ke potensi dan minat yang kita miliki. Jangan
hanya menyalahkan orang-orang atas kesuksesan yang mereka capai dan mulai
membandingkannya dengan kita. Karena kita tidak tahu seberapa keras
mereka bekerja dan berusaha, yang kita tahu “hidup senang” mereka saja bukan? Kesuksesan
seseorang seharusnya menjadi cambuk untuk kita agar lebih bekerja dan bekerja lagi.
Tidak harus mengikuti “jalan kesuksesan” orang tersebut, tetapi seharusnya kita
menciptakan “jalan kesuksesan” kita sendiri dan mengambil hikmah dari
perjalanan hidup orang lain.
Penulis:
Wilin Putri Arifa
Orang-orang
yang mempunyai Privilege ini sering
dianggap mempunyai lebih banyak peluang untuk sukses daripada orang “biasa”.
Orang-orang dengan
privilege “pasti” mempunyai keluarga
berkecukupan secara materi, atau keluarga yang berpendidikan, atau bahkan
keluarga yang mempunyai banyak koneksi dengan orang-orang yang nantinya akan
membantu karier dari anaknya.



-min.png)






.jpg)










0 Comments