GemaJustisia.com-Pemilihan Umum Raya
(Pemira) KM Unand sukses diselenggarakan pada 7 November 2022 yang lalu. Pemira
dalam rangka memilih Presiden dan Wakil Presiden BEM KM Unand, serta Dewan
Perwakilan Mahasiswa (DPM) ini dilakukan secara online melalui E-voting. Pemira merupakan
wadah bagi seluruh warga KM Unand untuk menyalurkan hak suaranya yang
dilaksanakan secara Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil yang
berlandaskan kepada UUD KM Unand. Panitia
penyelenggara menyebutkan, bahwa terdapat beberapa alasan kenapa Pemira tahun
2022 diselenggarakan secara online, meskipun saat ini perkuliahan sudah kembali
normal dilaksanakan secara offline. Ketua Badan
Pemilihan Umum, Hilal Hamdi, menyebutkan ada 4 (empat) alasan kenapa Pemira KM
Unand dilaksanakan secara online kembali. Alasannya yang pertama terkendala jumlah Sumber Daya Manusia (SDM),
kedua pendanaan, ketiga waktu, dan keempat memerlukan persiapan
tambahan. “Awalnya online tapi setelah dilakukan sosialisasi dikebanyakan
KM meminta untuk dilaksanakan offline karena perkuliahan sudah offline, kami
menyanggupinya dan mempersiapkannya. Tapi setelah dikaji-kaji lagi ternyata tidak
bisa dilangsungkan offline,” ujar Hilal. Hilal juga
menjelaskan bahwa kendala SDM menjadi faktor yang mendorong Pemira secara
online. SDM yang tidak mencukupi akan menghambat kinerja panitia, jika Pemira
dilakukan secara offline panitia
harus bisa meng-cover seluruh
Mahasiswa Unand yang jumlahnya kurang lebih 17 ribu orang. Sayangnya, pada tahun
ini Panita Pemilihan Umum (PPU) hanya berjumlah 49 orang. Berbeda dengan tahun
sebelumnya panitia berjumlah lebih dari 100 orang dan masih tetap belum bisa
meng-cover seluruh Mahasiswa Unand. Menurut MHD Abdul
Afwan, yang turut hadir bersama Hilal, saat di wawancarai wartawan Gema
Justisia, pada Minggu (20/11) menyebutkan bahwa, di dalam TAP MPM
mengintruksikan Pemira untuk diadakan secara online. “Ketika ada usulan diadakan offline ya dari SDM tadi
tidak mencukupi, kami butuh SDM, cuma gimana mengadakan SDM itu tidak ada
solusi, adapun terlalu mepet waktunya kalau diubah dari keputusan awal,’’ ujar
Afwan yang merupakan SC Perlengkapan BPU. Disisi lain alasan
kedua yakni masalah pendanaan. Jika Pemira dilaksanakan secara offline, anggaran dana yang dibutuhkan akan
sangat banyak, karena diperuntukkan mulai dari persiapan, peminjaman alat
Pemilihan ke KPU Padang, kertas suara, konsumsi panitia dan dana lainnya. “Dana yang
terbesar itu memang di kertas suara, makanya untuk dana tidak ke cover sama sekali, jadi kami tidak
sanggup nalangin (menutupi kekurangan) kalau sebanyak itu. Pilihan kedua kita cuma
online,’’ Ujar Hilal. Selain itu, waktu
juga menjadi kendala yang dihadapi oleh Panitia Pemira sehingga pemilu online
menjadi pilihan. Panitia sudah mengundang 12 Ketua DPM dari seluruh Fakultas, kecuali Tigo Nan Sabaris (DPM
FH, FISIP dan FIB) untuk membahas hal ini. Hasilnya, DPM dari beberapa fakultas
juga setuju diadakan online. Pihak panitia
menyampaikan, bahwa mereka tidak menyanggupi Pemira 2022 jika diadakan secara offline karena keterbatasan waktu.
Selain itu dari awal memang sudah sepakat bahwa Pemira tahun ini akan diadakan
secara online. Alasan yang
terakhir yakni panitia memerlukan persiapan tambahan jika hendak
menyelenggarakan Pemira secara offline. Hilal
menjelaskan bahwa, “Volunteer yang
bergabung harus kita satukan persepsinya dulu, harus di upgrading dulu agar mereka mengetahui tugas dan hak mereka. Kita
butuh orang nya, butuh dana untuk itu, dan butuh waktu untuk poin ke 4 ini,”
kata Hilal. Untuk diketahui
bersama, bahwa jumlah suara pencoblos Pemira KM Unand tahun 2022 mencapai 4908
suara. Jumlah ini mengalami kenaikan suara sebesar 50% dari tahun lalu. Namun
dari pihak panitia Pemira sendiri belum mencapai target suara yang diinginkan,
yakni sebanyak 5000 suara. Disisi lain, Hilal
juga menyebutkan, bahwa syarat menjadi pemilih yaitu mahasiswa aktif Unand
dengan bukti memiliki KRS. “Menurut saya
karena terdaftar sebagai mahasiswa Unand, berarti dia bisa ikut pemilihan,
kalau KRS itu karena sekarang kita sistem online, semuanya itu diambil datanya
dari Dekanat masing-masing Fakultas dan BEM, Insya’allah data itu sudah valid,”
kata Hilal.
Reporter: Resi Nurhasanah & Fatmanisa Athaya


_(1).png)


.jpg)















0 Comments