Gemajustisia.com - Ada kecemasan bahwa Universitas
Andalas setelah menjadi PTN-BH memiliki kecenderungan lebih terhadap bisnis
daripada pelayanan dibidang pendidikan. Pikiran ini muncul karena Perguruan
Tinggi yang telah mendapat status Badan Hukum dapat mengelola keuangannya
sendiri. Diketahui saat ini, sumber pemasukan
atau pembiayaan Unand terdiri dari beberapa hal. Diantaranya yaitu, dari APBN,
Hibah, UKT mahasiswa, dan beberapa sumber lainnya. Ditakutkan, setelah meninjau
beberapa kampus yang beralih dari Badan Layanan Umum (BLU) menjadi Badan Hukum
(BH), Uang Kuliah Tunggal yang dikenakan kepada mahasiswa menjadi tinggi. Selain itu, ada anggapan juga nantinya
Unand akan menjadi sejenis perusahaan yang mengelola banyak bisnis.
Mempertanyakan hal tersebut, gemajustisia mencoba meminta pendapat dari
Asrinaldi, salah seorang Anggota Majelis Wali Amanat (MWA). Dalam pandangannya, Asrinaldi
mengatakan sulit untuk Unand menjadi sebuah perusahaan. Dosen yang mengajar di
Fakultas ISIP tersebut mengatakan, Unand tidak boleh keluar dari core sebagai lembaga pendidikan. Hanya
saja, dalam hal untuk mendapatkan pemasukan Unand bisa menjadi pihak ketiga. Semisal lanjut Asrinaldi, Unand bisa
menyelenggarakan kerja sama Intelektual. “Misalnya dalam konteks ada paten yang
jual kepada perusahaan, dan (memang –red)
Unand akan merintis seperti itu. Artinya, Unand bisa mendapatkan pemasukan
lebih jauh dari pengelolaan riset. “Jadi semua hilirisasi dari riset bisa
kita jadikan sebagai core business-nya
Unand untuk meningkatkan income
generating (pemasukan),” tutur
Asrinaldi. Dosen jurusan politik itu juga
mengatakan, MWA Unand yang diketuai oleh Sakti Wahyu Trenggono (Menteri
Perikanan dan Kelautan) telah membahas hal tersebut. Hasil pembahasan tersebut menyepakati
kedepannya Unand akan berfokus pada riset dibidang kesehatan dan pangan. Dan
itu telah tertuang dalam Rencana Kerja Anggaran Tahun Unand 2022. Pangan dan kesehatan dipilih karena MWA
menganggap riset dibidang tersebut belum fokus dilakukan oleh Perguruan Tinggi
lain. Asrinaldi mencontohkan ITB yang berfokus pada riset Teknologi, Informasi,
dan Komunikasi. Sedangkan kampus lain seperti UGM berfokus pada penelitian
dibidang Sosial Humaniora. Yang harus diperhatikan juga kata
Asrinaldi, kebijakan tersebut juga akan menguntungkan bagi mahasiswa. “PTN-BH
itu dengan keuntungan-keuntungan yang didapatkan tadi akan membiayai seluruh
kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi,” tutur lulusan doktoral Universitas
Kebangsaan Malaysia itu. Asrinaldi yang pernah menjabat Wakil
Dekan III FISIP turut menuturkan pengalamannya. Selama menjadi Wadek dia
kesulitan membiayai kegiatan mahasiswa di luar proses belajar mengajar. Seperti
kegiatan MBKM yang membutuhkan biaya besar. “Pastinya PTN-BH ini untuk mendukung
Tri Dharma karena tidak mungkin uang itu digunakan hanya untuk membangun investasi
tapi dikembalikan lagi kemanfaatannya kepada civitas akademika,” tutur
Asrinaldi. Selain itu harapan dengan adanya
PTN-BH, dari segi uang yakni bisa membantu kegiatan mahasiswa, riset dosen,
menyekolahkan dosen, dan mengontrak mahasiswa berprestasi untuk studi lanjut.
Penulis: Fatmanisha Athaya




.jpg)

1.jpg)
.jpg)












0 Comments