Pendam atau ungkapkan? Banyak kejadian demi kejadian yang kita alami yang kerap
memberi luka dan duka. Terkadang orang yang kita anggap sebagai pelindung justru
menjadi monster yang mengerikan. Seperti pada kasus yang sedang hangat dibicarakan oleh
publik. Seorang ayah yang notaben-nya sebagai malaikat tak bersayap bagi
anak-anaknya, malah jadi pemberi luka yang amat dalam. Kisah ini memang membuat sedih, kecewa dan marah bagi para
pembaca. Bagaimana tidak? Dalam berita yang diunggah oleh salah satu media memperlihatkan
ketidakadilan bagi korban, sang ibu yang menjadi pelapor malah dianggap mengiring
opini agar anak-anaknya membenci ayahnya. Keinginan untuk mendapatkan keadilan hampir saja lenyap
di kota tempat tinggalnya, namun bagaimanapun juga melihat kondisi anak-anaknya
membuatnya tak tahan untuk mencari keadilan tersebut,dengan berani sang ibu
mengambil langkah yang cukup berat. Kisah ini adalah kisah nyata dimana seorang ayah kandung dengan
tega memberi luka fisik dan luka batin bagi ketiga anaknya,
PEMERKOSAAN ANAK itulah yang dilakukan sang ayah. Tega bukan? Sudah sejak 2019 sang ibu berupaya melaporkan
kejadian yang menimpa ketiga anaknya, tetapi dia tak mendapat jawaban atas laporan yang sudah
dia perjuangkan sejak lama. Pendam atau ungkapkan? Tiga kata yang sederhana namun memiliki makna yang
luas,banyak konsekuensi yang didapat ketika memilih kata pertama,
PENDAM. Terbayang tidak jika sang anak memendam apa yang dia alami
selama hidupnya,bagaimana dia harus terbayang oleh masa lalu yang menyiksa hati
dan pikirannya. Bagaimana kalau anak-anak tersebut tak dapat menanggung
beban itu?dan bagaimana jika sang ayah melakukan
hal itu terus menerus? Jika hal tersebut hanya dipendam akan jadi banyak korban
yang menanggung beban tersebut sendiri. Ungkapkan? Mengungkapkan apa yang dirasakan adalah pilihan yang
tepat,tetapi belum tentu mendapatkan apa yang dicari. Terbayang tidak perasaan sang ibu ketika dia bersusah
payah mencari keadilan untuk ketiga anaknya, malah dianggap memiliki penyakit. Setiap ibu pasti akan memberikan yang terbaik kepada
anak-anaknya. Sang ibu hanya ingin menyelamatkan masa depan ketiga anaknya, dia hanya
pencari keadilan yang tak kunjung mendapatkannya. Dengan adanya tulisan-tulisan tentang kasus ini,
berharap Ibu dan ketiga anaknya mendapatkan keadilan dan
semoga para penegak hukum yang terhormat menggunakan hati nuraninya dalam
penanganan kasus ini.
Penulis: Sonya O. Manalu





















0 Comments