Gemajustisia.com - Perkuliahan Tatap Muka (PTM) Terbatas telah memasuki
minggu ketiga. Kehidupan kampus mulai berangsur pulih banyak mahasiswa yang
hilir mudik baik sekedar untuk berkuliah atau bahkan mengikuti kegiatan lainnya
diluar perkuliahan. Dari SK yang dikeluarkan terlihat bahwa kegiatan kampus
memang telah diperbolehkan dari segala aspek meskipun harus dengan syarat dan
ketentuan. Kegiatan kampus yang mulai berjalan seperti biasa
menuntut adanya tempat membeli makanan atau minuman serta keperluan lain untuk
memenuhi kebutuhan mahasiswa disekitarnya.
Tempat itu sering kita sebut
dengan kantin. Sebagai tempat penunjang kegiatan mahasiswa, kantin mempunyai peran yang penting dan letaknya
haruslah strategis agar mudah dijangkau. Di Unand sendiri ada pusat perbelanjaan yang kita kenal dengan nama Bussines Center
(BC). Mahasiswa Unand tentu familiar dengan nama ini. Tempat dimana mahasiswa dengan mudah menemukan makanan,
minuman, atau keperluan lainnya untuk kebutuhan hidup apalagi bagi mahasiswa
yang tinggal di asrama dan sekitarnya. Namun apa kabar dengan BC di tengah PTM Terbatas ini?
Apakah masih beroperasi? Atau malah tak terjamah lagi? Mengingat tidak adanya mahasiswa yang tinggal di asrama
saat ini. Mahasiswa lain yang berkegiatan
pun hanya disekitaran fakultas saja. Lalu bagaimana dengan mahasiswa angkatan tahun 2020 dan
2021, apa sudah pernah ke BC? Pemberlakuan PTM terbatas kini ternyata tak juga
memberikan dampak yang signifikan bagi BC.
Sampai saat ini hanya dua kantin memilih tetap berjualan. “Sudah tau PTM ini berlangsung tapi ndak ado pengunjung, pendapatan alun lai pulih”, ucap buk Nova, salah seorang
penjual makanan di kios bawah BC.
Ibu Nova sebagai penjual beralasan tetap membuka kantinnya hanya karena ada
renovasi asrama agar dapat menyediakan makanan bagi para pekerja yang ada
disana. Dampak dari liburnya perkuliahan selama dua tahun
ini sampai sekarang masih sangat Ia
rasakan. Hal
senada juga diungkapkan toko fotokopi yang berada di kios atas. “Saya bertahan tetap buka toko ini, hanya karena belum mendapatkan pekerjaan yang lain saja,
walaupun PTM Terbatas sudah berjalan tetapi tak juga
memberikan dampak yang besar bagi kami”. Sejak Covid-19 memasuki sektor kehidupan banyak hal
berubah mulai dari kebiasaan hingga gaya hidup masyarakat, orang-orang yang
haruslah pandai-pandai mencari penghidupan untuk memenuhi kebutuhan, belum lagi
banyaknya orang yang di PHK, toko yang ditutup, hingga sulitnya mencari
pekerjaan membuat beliau tetap bertahan untuk berjualan di BC. Meskipun dengan penghasilan yang tidak menjanjikan bahkan
para penjual lain disana memilih untuk menutup kantinnya karena tidak dapat
diharapkan lagi sebagai mata pencaharian, dari pihak kampus Unand sendiri hingga saat ini belum ada
memberikan bantuan secara langsung kepada para penjual yang terkena dampak liburnya
perkuliahan. “Saya belum pernah menerima bantuan secara langsung dari
pihak Unand, tapi sampai saat ini untuk uang listrik dan sewa tempat belum ada
diminta lagi”, ucap bapak yang bekerja di fotokopi BC (reporter
lupa menanyakan Nama narasumber, red). Apakah tindakan tersebut merupakan bentuk bantuan yang
diberikan oleh pihak Unand atau pihak Unand sendiri yang belum sempat menagih
uang sewa dan listrik dari para pedagang? Tanya Gema kepada beliau. “Kalau untuk itu saya juga belum tau
apakah nantinya akan ditagih atau memang diberikan secara sukarela” tambahnya. Para pedagang hanya berharap agar kondisi BC dapat
kembali seperti semula dan ramai pengunjung sehingga para pedagang dapat
membuka tokonya kembali sebagai sumber mata pencaharian para pedagang. “Saya hanya berharap covid 19 dapat segera berakhir dan
perkuliahan dapat diberlangsungkan menyeluruh secara offline” ucap bu Nova
yang makanannya bisa anda santap di kios bawah BC!
Reporter: Nur Sakinah Lubis, Sonya O Manalu





.jpg)

1.jpg)













0 Comments