Gemajustisia.com
- Musala atau tempat ibadah lainnya menjadi infrastruktur dan fasilitas penting
yang harus ada di setiap institusi. Di Fakultas Hukum sendiri, ada musala
Al-Hakim yang berada tepat di depan gedung Pusat Kreativitas Mahasiswa (PKM). Selain
untuk tempat ibadah, musala Al-Hakim juga biasa dipakai mahasiswa untuk
berkegiatan sehari-harinya. Seperti yang dilakukan Unit Kegiatan Mahasiswa
(UKM) Lembaga Pengkajian Islam (LPI) FHUA. LPI sering mengadakan pengajian
rutin setiap minggunya di musala Al-Hakim. Namun
sangat disayangkan, pamor musala Al-Hakim kurang populer dibandingkan tempat
ibadah fakultas sebelah. Seperti musala FISIP yang berdekatan dengan cafe
mande. Banyak mahasiswa, termasuk yang dari FH lebih suka beribadah di sana. Hal
ini bukan tanpa sebab. Kebanyakan dari mahasiswa FH, terlebih muslimah,
menyayangkan kurangnya fasilitas yang ada di musala kebanggan Fakultas Hukum
tersebut. Salah satunya terkait dengan tempat berwudhu mahasiswi yang terbuka. Saat
ini belum ada tempat berwudhu bagi perempuan yang cukup memadai. Bisa
diperhatikan pada sayap kanan musala (dilihat dari luar), tempat berwudhu yang
difungsikan untuk putri tersebut tidak memiliki sekat. Sehingga orang dari luar
dapat melihat ketika mahasiswi sedang berwudhu. Koordinator
Keputrian LPI, Siti Azila, mengatakan dirinya harus berpikir dua kali kalau
ingin berwudhu di musala Al-Hakim. Ia berharap hal tersebut bisa dibenahi oleh
Fakultas untuk menjamin kenyamanan mereka yang ingin beribadah. Senada
dengan Siti Azila, Enky Latifa Karim, mahasiswi angkatan 19 ini juga mengamini
hal tersebut. Enky menilai fasilitas musala, terutama tempat wudhu jauh dari
kata baik. Bahkan menurut Enky fasilitas untuk berhadas di Al-Hakim tidak bisa
disebut ada. Dia juga membandingkan fasilitas musala FH dengan musala FISIP. "Bisa
kita lihat kenapa musala FISIP itu cenderung lebih ramai, lebih terbuka, dan
lebih nampak lah kegiatan di musalanya. Karena memang fasilitasnya itu memang
memadai dan cukup. Kamar mandinya luas, tersedia (tempat berhadas -red),
ada cerminnya juga." Hal
ini kata Enky, membuat keinginannya untuk beribadah lebih kuat. Mahasiswi yang
juga bagian keputrian LPI berharap dekanat bisa mengadakan perbaikan. Agar
terciptanya tempat berwudhu yang lebih nyaman dan yang betul-betul dapat
memfasilitasi kegiatan berwudhu bersuci masyarakat FH. Wakil
Dekan II FHUA, Rembrandt, mengaku sudah mendengar keluhan mengenai fasilitas
musala ini. Dia mengatakan pimpinan fakultas juga sudah pernah merapatkan hal
tersebut. "Insya Allah itu sudah kita diskusikan dan interior masjid sudah
kita benahi, itu (nanti -red) ada batas batas tertentu dan segala
macamnya. Dia juga berkata akan mengecek kembali fasilitas untuk wudhu. Kendalanya
kata Rembrandt, karena sistem keuangan yang ada sekarang masih dalam tahap
transisi dari sebelumnya BLU menjadi PTN-BH. Sehingga untuk penganggaran pun
harus ada
peninjauan
kembali.
Reporter:
Dharma Harisa

.jpg)





.png)
.jpg)












0 Comments