GemaJustisia-Beberapa pekan lalu (11/02/2024), Indonesia dikejutkan dengan salah satu
film yang tayang di youtube Dirty Vote dengan judul Dirty Vote. Kini, channel
ini memiliki 157.000 subscriber. Film ini tembus 9,7 juta penonton hanya dalam
kurun waktu dua minggu saja. Tiga akademisi hukum tata negara yaitu Feri Amsari, Bivitri Susanti dan
Zainal Arifin Mochtar membuat gebrakan baru untuk mengedukasi publik tentang
kejanggalan pemilihan umum tahun 2024 dalam sebuah film dokumenter. Unit Kegiatan Mahasiswa Pengenalan Hukum dan
Politik (UKM PHP) Universitas Andalas yang bekerja sama dengan Pusat Studi
Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas, Pusat Studi Politik
Hukum Pemilu dan Demokrasi (POSHDem) melakukan bedah film serta diskusi
mengenai film Dirty Vote yang tengah menjadi kontroversi saat ini. Acara ini
berlangsun pada kamis (29/02/2024) di Gedung Serba Guna Fakultas Hukum
Universitas Andalas (GSG FHUA). Dalam road
show kali ini, Zainal Arifin Mochtar yang kerap disapa Uceng, menyampaikan
bahwa film ini digarap bukanlah karena mengusung paslon manapun. “Sebenarnya
apa yg kami lakukan, lebih banyak melakukan klipingnisasi berita orang,
analisis orang, analisis media, serta analis kita. Lalu disusun dan
mengkonversinya menjadi sebuah film. Film ini tidak bermaksud mengalahkan
orang, melainkan film ini berkisah tentang penguasaan tanpa kontrol”, ujar
dosen dari fakultas hukum universitas Gajah Mada itu. “Film ini
menjadi sarana penghukuman. Apakah film ini efektif atau tidak (kami tidak tau)
tapi satu yg pasti, kita harus melakukan sesuatu. Barangkali film ini adalah
pencetusnya. Ada yang harus dibangkitkan, dijuangkan sehingga tidak berhenti di
film ini saja. Istiqomah dan semangat,” ucapnya sebagai closing
statement dalam penyampaian materi tersebut. Selanjutnya, semangat pejuang dari kaum wanita
diwakili oleh Bivitri Susanti. Dia merupakan satu-satunya aktor wanita dalam
film Dirty Vote. Dosen yang mengajar di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia
Jentara ini, menyatakan bahwa banyak sekali kejanggalan yang terjadi. Bivitri menceritakan bahwa ide spontan Dhandy
Dwi Laksono untuk membuat Dirty Vote, berawal dari podcast Feri Amsari. Lalu
Dhandy berdiskusi dengan dirinya dan Zainal. “Harapan serta tujuan kami bukan
tujuan elektoral. Yang kami gelorakan adalah fakta. Memang ternyata karena
pendidikan politik kita yang kurang, dilihat dari fakta demografi, ini dapat
dimanfaatkan oleh para politikus yg tidak mencerdaskan anak bangsa. Tidak
sesuai dengan pencetus bangsa Indonesia. Kami punya harapan memikirkan lebih
jauh bahwa partisipasi politik itu bukan hanya waktu pemilu. Diskusikanlah
tentang politik ke warga sebisa mungkin. Buat pendidikan politis di organisasi
atau dalam masyarakat”, pesannya dalam kegiatan bedah film tersebut. Aktor lainnya yaitu Feri Amsari, merupakan
seorang ahli hukum tata negara dari fakultas hukum Universitas Andalas.
Menguatkan uraian dari rekan sebelumnya, Feri memperkuat argumentasi bahwa
hadirnya Dirty Vote sebagai pendidikan. “Film ini memberikan pendidikan
bagaimana kecurangan yang terjadi. Ibarat politik gentong babi,” ujarnya.
Pengistilahan politik gentong babi ini terinspirasi dari Amerika. Menggambarkan
keadaan dimana seseorang akan berbuat baik kepada orang di bawahnya dengan
tujuan membujuk bawahan tersebut agar dapat memaklumi perbuatan buruk,
kecurangan di masa sebelumnya. Joni Asira sebagai produser Dirty Vote juga
turut hadir di acara bedah film. Ia mewakili sutradara Dirty Vote, Dhandy, yang
berhalangan hadir. Pria paruh baya tersebut mengungkapkan beragam komentar
ditujukan untuk Dirty Vote. Ia menjelaskan film yang terinspirasi dari podcast
Feri tersebut, menekankan putusan Mahkamah Konstitusi 90 sebagai upaya
sistematis berikutnya. Joni juga menyinggung soal pemilihan waktu penayangan
Dirty Vote. “Banyak pertanyaan mengenai film ini karena dinilai mengganggu masa
tenang. Kami justru melihat masa tenang sebagai momentum yang baik karena
sebelumnya publik dibanjiri dengan tsunami informasi” jelasnya. “Susah
mencari orang yang menyatakan benar menjadi orang yang Istiqomah itu yang susah
pada zaman sekarang. Banyak peristiwa anomali yang terjadi zaman sekarang”
ungkap Hary Efendi Iskandar selaku penanggap yang berasal dari Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Andalas. Sebagai salah satu UKM yang berkecimpung pada
dunia politik, tentunya UKM PHP memiliki latarbelakang yang kuat, “yaitu karena
kehadiran Dirty Vote di tengah pemilu, dan pembahasan tentang kecurangan dari
semua pasangan calon dipaparkan membuat media bahkan mahasiswa tergerak untuk
mengungkapkan pendapatnya juga. Maka UKM PHP ingin mewadahi mahasiswa,
akademisi, bahkan masyarakat umum untuk menunjukkan kegelisahan akan demokrasi
yang cacat dan bisa langsung berdiskusi dengan pakar hukum tata negara yang terlibat
dalam film Dirty Vote. Menunjukkan bahwa kebenaran masih belum terbungkam dan
bisa menjadi benih kesadaran bersama untuk tetap bergerak,” ketik ketua
pelaksana bedah film, Imelda Wahyuni, yang diwawancarai melalui media chat
whatsapp tersebut. Selain mengenai latarbelakang, ketua pelaksana
pada kegiatan ini juga menuturkan, “bahwa harapan dari diskusi publik dan bedah
film Dirty Vote yakni bahwasanya mahasiswa, akademisi, dan kalangan umum dapat
sadar apabila adanya kecurangan tidak hanya berdiam diri saja. Dengan adanya
kegiatan ini bisa dijadikan sebagai pemantik untuk estafet pergerakan di masa
yang akan datang bahwasanya pemerintah itu perlu dikontrol oleh oposisi.”
Acara ini mendapatkan antusias yang baik,
dibuktikan dengan ramainya peserta yang hadir, Tiga aktor Dirty Vote serta
produser yang hadir membawakan penjelasan dengan bahasa yang mudah dicerna.
Semangat perjuangan generasi muda menjadi alasan utama kegiatan bedah film
siang itu. Reporter: Redaksi


.png)
.jpg)

















0 Comments