Adanya Isu Kenaikan UKT, UKM PHP Unand Adakan Kegiatan Diskusi Publik

Liputan dan Berita
Adanya Isu Kenaikan UKT, UKM PHP Unand Adakan Kegiatan Diskusi Publik

Gemajustisia.com-Unit Kegiatan Mahasiswa Pengenalan Hukum dan Politik Universitas Andalas (UKM PHP Unand) sukses menyelenggarakan kegiatan diskusi publik di Gedung Serba Guna Fakultas Hukum Unand pada Senin (10/06/2024).

Dengan mengangkat isu terkini, UKM PHP membawa tema “Eskalasi UKT Perguruan Tinggi Membunuh Peradaban Masa Depan Negara”, mendapat antusiasme penuh dari mahasiswa untuk menghadiri kegiatan tersebut.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Sucy Delyarahmi S.H., M.H  (Dosen Fakultas Hukum Unand), Dr. Hary Efendi Iskandar, SS., MA. (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unand), dan Mhd Abdul Afwan (Unand Buka Mata).

Sucy Delyarahmi sebagai narasumber pertama mulai menguraikan persoalan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) yang memiliki otonomi dalam membuat regulasinya sendiri, tetapi dapat berdampak pada kenaikan biaya pendidikan dan komersialisasi.

“Masalah sebenarnya yang buat ini jadi momok di kalangan mahasiswa adalah penetapan UKT yang tidak tepat sasaran dan pemberian KIP yang juga tidak tepat sasaran,” ujar Sucy.

Setelahnya, Afwan turut menanggapi persoalan yang sama, di mana tidak semua orang yang beruntung untuk melanjutkan studinya hingga selesai sebab keadaan finansial yang tidak memungkinkan. Untuk itu, ia berharap mahasiswa dapat berkontribusi aktif untuk hak atas pendidikan. Sebab pendidikan seharusnya adalah kesempatan bagi semua individu.

“Di Indonesia sendiri memiliki concern tentang hak atas pendidikan itu, salah satunya Aliansi Pendidikan Gratis (Apatis). Tidak hanya Apatis, kami dari Unand Buka Mata ingin berperan aktif dan terlibat dalam pendidikan gratis,” tuturnya

Masih terkait persoalan PTN- BH, Hary Efendi Iskandar juga turut menolak kebijakan tersebut. Menurutnya yang mengelola perguruan tinggi ini rata-rata ialah mental pendidik, bukan mental pebisnis. Berbeda dengan universitas lain yang sudah memiliki sumber dayanya sendiri, sehingga itu tidak menjadi masalah bagi mereka.

“Saya yang dulu punya banyak waktu untuk mahasiswa, semenjak PTN-BH udah jarang ada waktu. Jadi siswa harus turun tangan untuk memperjuangkan haknya,” kata Hary Efendi.

Ia menjelaskan bahwa yang memiliki dampak terbesar ialah orang tua dari mahasiswa itu sendiri. Oleh karena itu, perlunya sikap empati sehingga mahasiswa harus berjuang menuntut pemerintah untuk mencabut kebijakan yang merugikan tersebut.

“Tidak ada alasan bagi warga negara untuk tidak mendapatkan pendidikan berkualitas,” tutup Hary.




Reporter: Saripah Rahmaini, Keisha Faatin



 

0 Comments

Leave a Reply