Gemajustisia.com
- Orientasi Proses Belajar Mengajar (OPBM) merupakan proses pengenalan tahap
awal di perguruan tinggi yang diberikan ketika seseorang baru menjadi
mahasiswa. Di Universitas Andalas, kita mengenal orientasi tersebut dengan
BAKTI (Bimbingan Aktivitas Kemahasiswaan Dalam Tradisi Ilmiah). Proses OPBM pada
perguruan tinggi dari masa ke masa juga mengalami beberapa perubahan. Jika
sewaktu masa Orde Baru dahulu calon mahasiswa akan dihadapkan dalam bentuk
orientasi yang cukup keras, lain halnya dengan sekarang. Ketika OPMB
dilaksanakan, kerap terjadi tindakan bullying oleh kakak tingkat sewaktu
mahasiswa baru menginjakkan kaki di kampus. Oleh sebab itu, lembaga perguruan
tinggi terus berbenah agar budaya dan tindakan yang kurang humanis tersebut dapat
dihilangkan. Belakangan kita tidak lagi sering mendengar ada perlakuan keras
dari senior ke junior di perguruan tinggi. Di Fakultas Hukum
Unand sendiri, mengubah tradisi bullying atau
biasa kita sebut juga dengan perpeloncoan, butuh perjuangan yang sulit.
Hal tersebut diutarakan Wakil Dekan III Fakultas Hukum, Lerri Patra (15/07). Dia dan beberapa
rekan sesama dosen seperti Ferri Amsari, memperjuangkan konsep BAKTI di
Fakultas Hukum yang lebih humanis. Acara yang biasa dipakai kakak tingkat
sebagai wadah perpelocoan, diberi batasan yang lebih ketat. Konsep BAKTI yang
sebelumnya dirumuskan oleh unsur angkatan, diganti dengan rundown tertulis oleh
Fakultas. Hal itu terjadi ketika masa kepemimpinan Charles Simabura sebagai
Wadek III. Lerri mengatakan pada
waktu itu memang sempat ada penolakan dari angkatan. "Dengan mengubah
paradigma yang mengira bahwa bakti masih seperti tradisi-tradisi sebelumnya,
mereka beranggapan untuk apa ada angkatan kalo acaranya textbook,"
ucap Lerri menirukan penolakan tersebut. Lerri tidak menampik
bahwa memang angkatan senang dengan bullying. Hal itu ia beri contoh bagaimana
angkatan mengelola BAKTI. "Di hari ke dua, mereka (mahasiswa baru)
dikumpulkan dari jam 6 disuruh jalan jongkok, berbaris. Nanti di hari-hari
terakhir mereka buat pos-pos. Nah nanti disuruh jalan dari pos ke pos lainnya,
ada 'macam' yang disuruh. Kita tidak bisa (lagi -red) menoleransi hal
tersebut," tutur Lerri. Maka dari itu,
Fakultas beralih ke hal yang jauh lebih beradab. "Mereka (Maba -red)
ingin mendapatkan pendidikan yang tinggi disini," tegas Lerri. Untuk kepanitiaan
BAKTI sendiri, dosen bagian HAN tersebut menjelaskan, rundown acaranya telah
ada. BEM dalam hal ini hanya sebagai pengkoordinir saja. "Karena BAKTI
sendiri itu ada batasan-batasannya. Materi-materi apa saja yang diberikan di
tingkat universitas dan fakultas," lanjut Lerri menerangkan.
Reporter:
Dharma Harisa





















0 Comments