Gemajustisia.com- Kamis (28/08), akan tercatat sebagai hari kelam dalam sejarah demokrasi Indonesia. Di tengah hiruk-pikuk aksi unjuk rasa yang berlangsung di kawasan Senayan, Jakarta, seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan (21 tahun) kehilangan nyawanya setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob. Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan, ini adalah cermin retak sistem pengelolaan keamanan publik yang memerlukan evaluasi menyeluruh. Kematian Affan Kurniawan bukanlah peristiwa biasa. Ia adalah potret telanjang dari betapa murahnya harga nyawa rakyat kecil di negeri ini. Seorang pemuda yang seharusnya menatap masa depan dengan penuh harapan, justru harus berakhir di bawah roda kendaraan aparat yang mengaku hadir demi menjaga keamanan. Pertanyaan yang muncul hanya sederhana, keamanan untuk siapa, jika pada akhirnya rakyatlah yang menjadi korban? Kita patut marah sekaligus prihatin, sebab tragedi ini menunjukkan bahwa aparat keamanan masih memandang rakyat bukan sebagai subjek yang harus dilindungi, melainkan sebagai objek yang bisa dikorbankan. Selama pendekatan yang digunakan adalah kekerasan, bukan perlindungan, maka luka demi luka akan terus menganga. Bukankah tugas utama aparat negara adalah melayani dan melindungi rakyat? Namun di jalan Senayan itu, rakyat justru diperlakukan sebaliknya. Ditaklukkan, bahkan hingga kehilangan nyawa. Lebih dari sekadar kelalaian, ini adalah sinyal bahaya dari sebuah sistem yang gagal menempatkan kemanusiaan sebagai prioritas utama. Tragedi ini tidak bisa ditutup dengan kata maaf atau prosedur internal semata. Yang dibutuhkan adalah pertanggungjawaban nyata. Hukum yang berpihak pada korban, bukan perlindungan pada seragam. Jika negara terus mengabaikan pelanggaran seperti ini, maka kepercayaan rakyat akan terkikis, dan rasa aman yang dijanjikan hukum hanya akan menjadi ilusi. Editorial: Redaksi




.jpg)



.jpg)


.png)









0 Comments